Sabtu, 15 Maret 2014

ILS (Instrument Landing System)

Salam FGH.B.C
Malam Ini Saya Akan Membawakan Ilmu Yaitu "ILS (Instrument Landing System)"Info Ini Untuk Para Flight Simmers
Instrument Landing System (ILS) merupakan sistem pemandu pendaratan pesawat udara menggunakan instrument elektronika. Sistem ini membantu pesawat udara untuk mendarat tepat pada centre line (garis tengah) runway dan dengan sudut pendaratan yang tepat.
nPemanduan dilakukan agar pilot mengetahui jarak pesawat terhadap area pendaratan (touchdown zone) pada runway
nPemanduan dilakukan untuk mengatur posisi kanan kiri (center line) pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat di garis tengah landasan.
nPemanduan dilakukan juga untuk mengatur posisi atas bawah pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat pada sudut ± 3° terhadap landasan.
ILS terdiri dari 3 komponen peralatan berdasarkan fungsi pemanduannya yaitu :
1.   Marker Beacon
2.   Localizer
3.   Glide Slope

MARKER BEACON

OUTER MARKER(OM)

Outer marker adalah peralatan navigasi yang memancarkan gel.elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot bahwa posisi pesawat berada pada jarak 7 – 12 Km dari threshold (ujung runway). Oleh karena itulah perlatan pemancar outer marker diletakkan pada jarak 7 – 12 Km dari ujung runway,sehingga pada saat pesawat berada tepat di atas outer marker maka pesawat akan menerima informasi bahwa pesawat berada pada jarak 7-12 km dari threshold.
Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada panjang terputus-putus (dash tone) / ___  ___  secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal outer marker / tidak berada di atas peralatan outer marker.
Selain terdengar dash tone,  pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna biru yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal outer marker. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
                                                                                                           

MIDDLE MARKER(MM)

Sama halnya seperti outer marker, middle marker juga memancarkan gel.elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot dengan jarak yang berbeda dari OM yaitu 1,050 Km dari threshold (ujung runway). Oleh karena itulah perlatan pemancar outer marker diletakkan pada jarak 1,050 Km dari ujung runway, sehingga pada saat pesawat berada tepat di atas outer marker maka pesawat akan menerima informasi bahwa pesawat berada pada jarak 1,050 km dari threshold. Pada area ini, pilot harus sudah mengambil keputusan apakah dia sudah siap dan pada posisi yang tepat untuk landing atau tidak. Jika pilot merasa belum siap landing, dia harus segera memutuskan untuk go arround (kembali lagi pada posisi pendekatan).
Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada panjang  dan singkat  bergantian  (dash dot tone) / ___ o ___  secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal middle marker / tidak berada di atas peralatan middle marker.
Selain terdengar dash dot tone, pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna amber yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal middle marker. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
                                          

INNER MARKER(IN)

Inner marker, tidak seperti marker beacon lainnya, inner marker jarang dipakai pada bandar udara di Indonesia kerena jarak pandang (visibility) pilot masih relatif baik. Inner marker biasanya digunakan di bandar udara yang berada pada daerah bersalju,dan berkabut dimana visibility dekat. Peralatan ini juga memancarkan gel.elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot dengan jarak 450 m dari threshold (ujung runway).
Informasi yang diterima pesawat berupa identifikasi nada singkat terputus-putus (dot tone) / ___ o ___  secara terus menerus sampai pesawat tidak lagi berada pada pancaran sinyal inner marker / tidak berada di atas peralatan inner marker.
Selain terdengar dot tone, pilot juga akan memonitor indicator lampu berwarna putih yang akan menyala saat pesawat menerima sinyal middle marker. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

LOCALIZER

Peralatan navigasi yang memberikan informasi mengenai kelurusan pesawat dengan garis tengah landasan. Seperti terlihat pada gambar tampak atas sebuah runway dibawah. Localizer ditempatkan di ujung runway.
Peralatan ini akan memancarkan 2 buah slope dengan frekuensi loop yang berbeda tetapi tetap satu frekuensi carrier. Kedua frekuensi inilah yang akan dibandingkan setelah diterima oleh pesawat udara untuk melihat apakah pesawat berada tepat di centre line atau belum. Indicator yang terlihat di cockpit pesawat berupa jarum sebagai tanda centre line
Jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 150 Hz, jarum akan bergerak ke kiri, artinya pesawat berada terlalu kekanan dari centre line, maka pilot harus menggerakkan pesawat ke kiri sampai jarum tepat di tengah. Begitu juga sebaliknya jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 90 Hz, jarum akan bergerak ke kanan, artinya pesawat berada terlalu ke kiri dari centre line, maka pilot harus menggerakan pesawat ke kanan sampai jarum tepat di tengah.
Saat komposisi frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz seimbang, artinya pesawat berada tepat di centre line dan pesawat sudah dalam posisi yang benar untuk landing.
Direction of Approach LOC
Localizer bekerja pada range frekuensi 108.00 – 112.00 Mhz, dengan jarak persepuluhan ganjil. Persepuluhan genap digunakan untuk VOR (VHF Omnidirectional Radio Range). Sebagai contoh  ILS WIII (kode bandara Sukarno-Hatta) runway 07 right  memiliki frekuensi localizer 110.50 Mhz, sedangkan frekuensi VOR-nya adalah 113.60 Mhz.
Frekuensi ini dipancarkan oleh antena carrier yang diletakkan di tengah antara antena 150 Hz dan 90 Hz. Antena loop memancarkan sinyal yang kemudian dimodulasikan dengan frekuensi carrier di udara. Modulasi seperti ini disebut Space Modulation.. Antena Localizer terdiri dari 16-24 buah antenna loop dan 1 buah antena carrierLocalizer

GLIDE SLOPE

Peralatan navigasi glide slope tidak jauh berbeda dengan localizer pada bentuk modulasi dan frekuensi loopnya. Glide slope juga memancarkan frekuensi carrier dan loop. Glide slope memberikan informasi sudut pendaratan 3o dengan mengkombinasikan frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz menggunakan 2 buah antena vertikal dalam 1 buah tiang. Sudut 3o dihasilkan jika loop 150 Hz sebanding dengan 150 Hz.
 Kedua frekuensi ini akan dibandingkan setelah diterima oleh pesawat udara untuk melihat apakah pesawat sudah memmbentuk sudut 3o atau belum. Indicator yang terlihat di cockpit pesawat berupa jarum sebagai tanda sudut 3o.
Jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 150 Hz, jarum akan bergerak ke atas, artinya sudut pendaratan pesawat terlalu rendah atau peswat talu rendah untuk landing, maka pilot harus menaikkan pesawat sampai jarum tepat di tengah. Begitu juga sebaliknya jika pesawat mendapatkan frekuensi loop dominan 90 Hz, jarum akan bergerak ke bawah, artinya sudut pendaratan pesawat berada terlalu besar atau pesawat terlalu tinggi untuk landing, maka pilot harus menurunkan ketinggian pesawat sampai jarum tepat di tengah.
Saat komposisi frekuensi loop 150 Hz dan 90 Hz seimbang, artinya pesawat berada pada sudut pendaratan yang aman (tepat) dan pesawat sudah dalam posisi yang benar untuk landing.
Glide Slope 
Sebelum Kita belajar dan mengenal ILS, kita kenal dulu yuk perangkat / Instrument Navigasi pesawat:::::
  • GPS untuk mendeteksi lokasi pesawat, mendeteksi cuaca, dan sebagai referensi wajib bagi pilot ketika visibility di luar kokpit terhalang kabut/awan dan mungkin hanya <200m. Perangkat radar ini juga menjadi referensi ILS yang kita bahas.
  • Radio stack sebagai panel komunikasi via radio dengan base station/tower, setting squawk yaitu seperti ID (identification) number kita di udara sehingga base station bisa terus melakukan flight following, dan sebagai tempat mengatur ILS frequency yang kita bahas.
  • Airspeed control sebagai referensi kecepatan pesawat di udara. Konsep mengukur kecepatannya menggunakan tabung pitot. Masih inget pelajaran fisika gak hayoo.. haha.. Pada pesawat modern, throttle jet (atau pada mobil pedal gas-nya dah) bisa gerak-gerak kedepan dan kebelakang dengan sendirinya. Jadi misalnya pilot melakukan setting kecepatan yang diinginkan adalah 250 knots, maka sistem navigasi pesawat sendiri yang akan mengaturnya.
  • Altitude control sebagai panel mengukur ketinggian pesawat dengan ukuran feet dari permukaan laut. Untuk mengukur altimeter dengan menggunakan patokan mmHg (raksa) alias berdasarkan tekanan udara. Masih ingat nggak sama Fisika????.. hahahah.. Tekanan udara pada fair weather adalah 29.92 mmHg. Semakin rendah mmHg berarti semakin rendah juga pesawat. Altimeter pesawat juga bisa diatur sehingga pesawat sendiri yang secara otomatis akan mencapai ketinggian itu sesuai vertical speed yang juga di setting oleh pilot.
  • Heading control sebagai panel yang memberikan informasi azimuth pesawat. Apakah kita sedang menuju ke utara, timur, barat, atau selatan. Utara bernilai Heading = 360 atau 000, Timur bernilai heading 090.  Ya, di pesawat juga ada heading control sehingga pilot tinggal masukkan mau ke arah mana, nanti pesawat yang belok sendiri dan melakukan penepatan posisi arah pesawat terhadap penjuru mata angin maksudnya penepatan dengan heading.

INSTRUMENT LANDING SYSTEM

ILS adalah alat yang digunakan untuk membantu proses landing pesawat. ILS biasanya terdapat di sekitar runway yang dapat mengendalikan pesawat. Tetapi tidak setiap bandara memasang ILS. ILS itu biasanya ada di lampu2 pendaratan….
Saat menggunakan bantuan ILS kita terlebih dahulu mengetahui Informasi dasar airport tujuan.
Pada contoh kali ini, kita akan mendarat di Soekarno Hatta Airport Jakarta. Tower memberikan clearance, clear to land runway 7R (“070″ adalah heading dan “R” adalah right, karena runway di Soekarno Hatta ada 2 paralel (====). Sebelumnya lihat informasi tentang Soekarno Hatta Airport. Seperti terlihat di gambar bawah ini, ternyata runway 7R, berada pada ILS Freq 110.500 dengan runway exact headingnya 068.
Potongan Informasi Airport
Aktifkan Nav, masukkan frekuensi radio pada navigasi. Frekuensi radionya 110.500 hanya kita masukkan 110.50 (one one zero point five zero).  Itu kalo di soekarno hatta ya.. jangan salah,nanti kalian masukkan ke airport yang lain… hahahaha
Radio Stack Panel
Lakukan setting pada instrumen airspeed, heading, dan aktifkan APP (approach)… Swiiinggg.. pesawat otomatis akan mencoba meluruskan dirinya sendiri dengan ILS localizer di runway, termasuk vertical speed control juga akan diatur otomatis olehnya. Pesawat akan naik sendiri bila kerendahan dan turun bila ketinggian…
Autopilot Panel
Dan bila anda lihat GPS, maka pesawat anda akan lurus sekaliiiiiii……….. dengan runway 7R (7L yang Kiri,,, 7R yang kanan)TOOO…. LAND AUTOMATICALLY….
GPS Radar Terhadap Runway 7R
Dan pada saat Final, runway dengan pesawatnya sangat lurus…… dan akhirnya touchdown dengan mulusss bunggggg,,,, dandan selamat… wowowoooo…
WIAS-WIII Landing